Tentang Sebuah Makam di Bawah Pohon Mangga

Cerpen karya Hammidun Nafi Syifauddin.

Sumber : Kompas Cetak

Tentang Sebuah Makam di Bawah Pohon Mangga

Di belakang rumah itu, Emak selalu bercerita. Di bawah pohon mangga yang dulu pernah berjaya. Berbuah luar biasa banyaknya dengan ukuran yang membuat bibir sedikit menganga sambil mengecapkan lidah dan menelan ludah.

Sepanjang musim mangga tiba, anak-anak tetangga selalu bergembira. Mereka akan makan mangga. Begitu yang Eyang lakukan waktu Emakku masih kecilmembagi-bagikan mangga yang sudah masak.

Tak satu pun buah mangga yang kata orang-orang laku mahal itu membuat Eyang terbujuk untuk menjualnya kepada tengkulak. Tak sedikit pula tengkulak menawarkan banyak uang tapi oleh Eyang hanya dikasih dua buah lalu uangnya dikembalikan.

Kalau pagi datang para tetangga silih berganti menyirami pohon mangga dengan air bekas cucian ikan. Biar buahnya tambah manis, katanya. Bahkan sampai sekarang, saat Emak sudah hampir seusia Eyang dulu, para tetangga masih setia menyirami pohon mangga. Kau kenapa tak mau berbuah lagi, katanya.

Dahan paling besar itu sudah lama merunduk. Abangmu kalau marah pasti sembunyi di pohon mangga itu, kata Emak. Itu waktu abangku masih kecil. Tapi sampai aku sudah tak memakai seragam putih abu-abu belum juga kulihat bagaimana rupa abangku itu. Sejak kecil yang kutahu hanya aku punya abang bernama Badrun. Itu saja.

Abangmu si Badrun entah sudah setua apa sekarang, Emak selalu menghembuskan napas panjang kalau memikirkan itu. Kalau keluar kota lalu bertemu seseorang bernama Badrun aku selalu berharap dialah Badrun anak Emak. Oh, saya Ahmad Badrun anak si Suta. Oh, saya Dul Badrun anak si Naya. Tak satu pun nama Emak mereka sama dengan Emakku.

Pohon mangga tak lagi berbuah. Badrun abangku tak pernah pulang. Kasihan Emak dan para tetangga. Emak habis-habisan memikirkan Badrun. Kalau soal pohon mangga ini, biar kami yang mengurus, begitu yang ditawarkan para tetangga.

Kata Emak, Badrun pandai memilih mangga yang masaknya paling sempurna. Dia kalau marah suka sembunyi di pohon, bagaimana bisa tidak hafal. Kalau dia sembunyi sambil nangis, kata Emak matanya jelalatan melihat mana mangga paling masak. Memang dia marah, tapi kalau turun dari pohon, ada empat sampai lima mangga masak dibawanya. Kata Emak, mangga yang diambil Badrun benar-benar manis.

Dia itu sebenarnya anak baik, tak pernah dia pulang sekolah membawa rapor merah. Bapak dan ibu guru selalu mengacungkan jempol untuknya. Cuma sayang, saat dia lulus SMP bapak meninggal. Lalu dia pergi kerja. Dua bulan setelahnya barulah aku lahir.

Tak ada Badrun, tak ada buah mangga. Mereka tinggallah cerita. Pohon mangga itu adalah peninggalan Eyang. Ditanam tepat ketika Emak lahir. Dan sekarang, pohon itu sakit.

Kursi panjang berbahan bambu wuluh bikinan bapak itu sudah tak lagi kokoh. Kalau aku rewel waktu kecil dulu, Emak sering menyanyi dan mendudukkanku di kursi bambu itu. Sama, abangmu kalau rewel begitu juga Emak nyanyikan, kata Emak.

Ada banyak orang di rumah. Sebagian di sekitar pohon mangga. Mereka duduk di kursi bikinan ayah itu. Dan yang di dalam rumah sebagian membacakan Surat Yasin, sebagian lagi mondar-mandir di depan jendela.

Mata Emak makin mendekati terpejam. Tapi aku tahu dia itu melihatku. Aku masih memikirkan Badrun. Kasihan Emak. Aku keluar sebentar melihat pohon mangga. Lalu masuk lagi menuju Emak.

Bagaimana kalau Emak kita pindahkan ke bawah pohon mangga, kataku.

Jangan! biar di sini saja, Kang Sarta melarang.

Tangan Emak melambai-lambai. Matanya terus menatapku. Semua orang memperhatikan. Emak sudah tak mampu bersuara. Hanya tinggal jemarinya menuding-nuding pohon mangga.

Baiklah, kita pindah saja ke sana, Kang Sarta memutuskan cepat.

Di bawah pohon mangga Emak dibaringkan. Sudahlah Mak, jangan terlalu banyak berpikir. Ini pohon mangga sudah banyak yang mengurus. Para tetangga makin rajin menyiramkan air cucian ikan.

Mata Emak menatap dahan yang merunduk. Di situ Badrun dulu sering bersembunyi. Kang Sarta ikut memandangi dahan itu. Kang Sarta juga tahu kalau Badrun suka bersembunyi di sana.

Aku memanggil Kang Sarta. Soal Badrun, aku akan mengarang cerita buat Emak. Mungkin Emak bisa sedikit lega. Kang Sarta tak mau ikut campur soal itu.

Aku mendekati Emak. Tangan Emak melambai-lambai dan mengelus jemariku. Mengenai kepergianku memenuhi undangan Kang Martin kemarin, ada sedikit kabar tentang Badrun. Kang Martin yang juga sudah lama tak pulang rupanya tahu keberadaan Badrun.

Kang Badrun baik-baik saja Mak. Kemarin dia titip uang buat Emak. Dia akan pulang, tapi sebelumnya Emak harus sembuh. Pokoknya, kalau Emak sembuh, aku langsung menemui abang. Ingat Mak, harus sembuh dulu.

Emak menggeleng. Kang Sarta agak ragu. Dia menarikku.

Bagaimana kalau Emak benar-benar sembuh? Akan kau cari di mana si Badrun?

Belum tahu Kang, yang penting Emak sehat dulu.

Terus, kalau sudah sehat?

Aku merasa dosaku sangat banyak. Bohong kepada Emak soal Badrun. Hanya Emak yang tidak tahu. Di bawah tempatnya berbaring itu adalah kuburan Badrun. Kemarin waktu Emak tak bisa bangun, aku pergi ke tempat yang ditunjukkan Kang Martin. Di sana memang tempat abangku bekerja. Tapi rupanya di sana pula tempat abang mengembuskan napas terakhir.

Kebetulan saat itu Emak sakit tak bisa bangun selama beberapa hari. Para tetangga sudah sepakat untuk merahasiakan itu. Yang Emak tahu, para tetangga membaca Yasin untuk Emak. Padahal bukan. Yasin itu untuk Badrun.

Abangku sakit apa Kang? tanyaku kepada Kang Martin.

Wah, aku tak tahu, dia sudah terbaring tiga hari di kamar.

Ah, makin pusing memikirkan itu. Yang penting sekarang abang sudah dimakamkan. Sekarang atau besok pun dia juga akan meninggal. Tapi satu yang masih aku sayangkan. Emak. Hanya Emak. Kasihan Emak.

Apa lagi di bawah pohon mangga itu mata Emak terus berkaca. Kang Sarta menunjukkan wajah prihatin.

Druuun, kata Emak lirih.

Druuuuun…

Badrun belum pulang Mak, Emak sembuh saja dulu.

Turun Druuuun turun…

Para tetangga ikut menatap apa yang ditatap Emak.

Badrun tidak di situ Mak, Kang Sarta meyakinkan.

Druuun, turun Drun, turuun.

Mak, Badrun pulang besok Mak, Emak sembuh saja dulu.

Emak terus memanggil-manggil Badrun. Terus memanggil. Lirih, makin lirih, terus lirih dan lirih.

Comments off

Cerpen : Hari Terakhir Duka

Hari Terakhir Duka
Karya Dody Kudji Lede

“Carilah seseorang untuk kau rindukan, aku tak mungkin terus ada di sisimu. Rindumu hanya akan membebani langkahku untuk terus berjalan, menyusur hari-hariku.” katamu. Aku tertunduk. Bukan pertama kali kau meminta aku melakukan ini. Dan ini bukan hanya tentang aku yang terus merindukanmu, tapi juga masa depan yang telah kau bingkai seindah pelangi di sana. Di tempat segala duka kau kubur dan tak seorang pun mengetahuinya. Kecuali aku.

“Tidak, biarkan aku terus memujamu dengan caraku, dalam kesepianku. Sekian lama aku telah menikmati semua pahit ini, dan aku akan terus menikmatinya, sampai kutemukan cara lain untuk mencintaimu. Jika rinduku menjadi beban bagimu, anggap saja kita tak pernah bersama. Bukankah sekian lama, bagimu aku adalah kesepian.”

“Tapi kau akan terus tersiksa dengan perasaanmu, dan aku tak mungkin menutup mata dengan semua hal tentang dirimu, terlebih cinta yang kau diamkan dalam kesepianmu. Buka hatimu, ada orang lain yang bisa mencintaimu lebih baik dari aku. Kita tak mungkin bersama lagi. Kau harus mengerti keadaanku.

Evania, gadis ini kembali memohon padaku setelah dua tahun yang hilang kembali mempertemukan kami. Dua tahun yang hilang, dan hingga saat ini belum ada yang mampu meluruhkan seluruh perasaan kami. Rindu memuncak di tiap hari yang terlewat. Cinta masih berdetak sama layaknya dulu. Tapi pertemuan kali ini hanya untuk mempertegas masa silam kami akan kebersamaan yang tak mungkin lagi. Kebersamaan yang harus rela dipisahkan oleh pikiran kolot zaman Siti Nurbaya.

Aku menatapnya sambil memegang tangan yang semakin kurus itu. Mata itu, yang pernah melepaskan segala kesedihanku, kini tak mampu menyembunyikan duka meski bibirnya berusaha menutup itu dengan senyumnya yang meluruhkan kesepianku selama ini.

Dua tahun lebih aku bersembunyi. Dua tahun pula aku menyimpan semua kepinganku sambil berusaha menyusunnya kembali seperti sediakala agar kelak aku mampu bangkit dan tak seorang pun yang tahu bahwa aku pernah hancur. Kau tahu, itu tak pernah mudah bagiku. Ini jalan terberat yang pernah kutempuh dan tak seorang pun yang datang untuk menopang aku. Kini kepingan itu nyaris sempurna kususun. Aku siap untuk bangkit, tapi aku ingin kau ada jika saat itu tiba agar bisa kau saksikan bagaimana seorang yang pernah hancur karena mencintaimu bisa bangkit dari kehancurannya tapi tetap mengagungkanmu dalam cintanya. Aku tak mungkin bangkit tanpamu. Kepingan ini harus ditopang ketika akan berdiri agar tak jatuh dan hancur lagi untuk kesekian kali. Dan kamu, hanya kamu yang bisa menopangnya.

Tidak! Bukan aku. Kamu bisa bangkit bahkan berlari tanpa aku. Kehadiranku hanya akan membuatmu melangkah dalam bayang-bayangku yang tak mungkin lagi meneduhimu. Kamu harus bisa sendiri. Yang kamu butuhkan kini hanya satu keyakinan, bahwa akan ada orang lain yang mampu membuatmu jauh lebih baik. Bukan aku. Buka matamu. Dunia ini sangat luas dan aku bukan satu-satunya perempuan yang tinggal di dalamnya.

Matanya beralih ke pintu yang setengah tertutup dengan pandangan kosong, menerawangi gersangnya rumpun pisang yang nyaris kering terbakar terik. Aku berharap ia dapat merenungi hidupku dari rumpun pisang itu. Hidup yang nyaris kering. Untuk terus hidup, harus ada yang menyiramnya dengan cinta dan perhatian yang tulus.
***
Memang benar apa yang dikatakan Evania. Evaniaku yang kini telah merintis deritanya dalam kesepian di negeri batas. Kesepian yang sengaja ia ciptakan untuk untuk menghalau lebih banyak duka berkecamuk dalam dadanya yang telah penuh dengan goresan luka masa lalu. Aku mengaguminya. Ketegaran Evania untuk terus bertahan menghadapi kehidupan yang bukan mimpinya. Dan bukan mimpi semua perempuan, tentu saja. Mimpi-mimpi yang ia ciptakan semenjak gadis harus ia buyarkan kala ia harus menikah dengan seorang lelaki yang tidak lebih dari pecundang. Lelaki yang tak pernah peduli apa yang dimakan seorang Evania dan anaknya. Lelaki yang menggunakan bajunya sirahnya agar selalu terlihat bijaksana dan berwibawa.

Di negeri barunya, Evania harus menciptakan juga mimpi-mimpi baru untuk hidupnya dan membangun semua itu dalam waktu satu malam. Bagaimana tidak, ia seperti memasuki belantara yang sangat kelam dan asing. Ia harus bergulat antara rasa takut oleh kekelaman itu atau mencari jalan agar mampu beradaptasi. Bertahan dengan rasa takut hanya akan membuat ia dikuasai oleh ketakutan itu sendiri dan kekelaman akan semakin menjerumuskan ia ke dalam ngarai yang kian dalam. Evania sungguh perempuan tangguh. Ia berhasil melawan arus, membalik ketakutan dan menerangi kekelaman jalannya, dan pada akhirnya dialah yang memegang pelita dikendalinya dalam hitungan waktu yang singkat.

Namun, sehebat-hebatnya seseorang dikehidupannya, toh ia memiliki rasa rindu untuk menggenggam kembali mimpi-mimpinya di masa silam. Inilah yang tak mampu ia kendalikan. Prahara rumah tangganya dari hari ke hari kian menjadi ruwet. Rasa cinta kian hari hanya sebuah kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan formal. Nyaris tak lagi bergetar.

Aku memahami semua yang terjadi pada Evaniaku akhir-akhir ini. Ia bangun mimpi tapi harus kandas oleh ego seorang bajingan. Dan bajingan itu juga yang memporak-porandakan ruang hati yang kusiapkan khusus untuk Evania tapi tiba-tiba hancur oleh undangan pernikahan yang sampai ke rumahku. Berhari-hari aku kehilangan selera makan, hanya tidur dan meratapi nasib hingga akhirnya aku merasa sadar, bahwa mungkin inilah jalan Tuhan untuk memberi kebahagiaan bagi Evaniaku. Mungkin pernikahannya akan mampu memunahkan luka dan duka yang sebelumnya sering digoreskan dengan sempurna oleh sekian jumlah lelaki dalam hatinya. Aku mencoba iklas meski tak iklas oleh kenyataan ini. Dengan segala kekuatan, aku menggenggam tangannya, memberikan kecupan terakhir tatkala ia dipinang secara adat, lalu pergi dari kehidupannya selama berwaktu-waktu.

Aku pergi darinya untuk membuang segala perasaan tentang dia dengan susah payah. Berbulan-bulan kugembalakan kehidupan ini dalam padang kritis dukaku. Menjaga hakikat rindu sestabil mungkin agar tak terperosok ke dalam ngarai duka yang kelam. Hingga pada satu titik dan aku merasa percuma dengan perjuanganku menghalau bayang-bayangnya. Ia kurindukan kala malam dan siang, kala panas dan hujan. Pada akhirnya, ia menjadi alasan mengapa aku harus berdoa. Ia menjadi alasan aku harus menjadi kian tegar. Ia menjadi alasan bagiku untuk kembali menemukan dunia yang hilang, mencari lagi kepingan yang telah terbuang dan menyatukannya lagi.
Kami bertemu di sudut peradaban yang telah lama kutinggalkan setelah perpisahan yang sangat lama. Perjumpaan ini meninggalkan kesedihan yang teramat sangat, menambah lagi sehasta duka dalam cerita kelamku. Evania bukan lagi seperti yang kubayangkan. Sosok magis itu kian kurus tubuhnya termakan derita kesendiriannya. Pundaknya dipenuhi tanggungjawab kehidupan yang berat, melebihi apa yang mampu ia pikul.

Saat itu aku sadar, yang ia butuhkan bukan hanya doa. Tapi juga pelukan agar ia tak merasa sendiri menjalani hidupnya. Ia butuh teman berbagi duka. Teman yang mampu mengerti segala hal dalam pergumulan hidupnya. Ia butuh aku untuk mengurangi lingkar matanya yang menghitam termakan airmata. Ia butuh pundakku untuk berbagi beban hidupnya. Ia adalah cintaku. Maka kurelakan hatiku, jiwa dan ragaku untuk memberi setiap hal yang ia butuhkan untuk menemukan kembali kebahagiaan sejati yang sekian lama menghilang dari kehidupannya.
***
Aku kembali memegang tangan itu. Tangan Evaniaku yang malang, memberinya isyarat agar melihat aku yang di sisinya. Tapi Evania tetap menujukan matanya ke arah pintu dan gersang rumpun pisang di depannya. Dan aku merasakan gemuruh di dadanya, pergumulan batinnya antara menahan airmata agar tak mengalir atau membiarkan semua kesedihannya mengalir deras di hadapanku.

Evania, kau tahu? Jiwa kembaraku mengarahkan langkah untuk kembali kepadamu. Hatiku setiap hari berseru-seru dalam dada untuk datang padamu. Bukan karena aku tak mampu menemukan perempuan lain, bukan. Bukan itu. Aku kembali, karena aku harus kembali kepadamu. Aku tidak datang untuk menawarkan kebahagiaan yang dulu pernah kusiapkan. Tidak. Aku juga tak datang untuk mengambil sisa kebahagiaanmu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku tak datang untuk itu. Aku terlahir bukan untuk berbagi kebahagiaan denganmu tapi untuk mengambil semua duka dari hatimu menjadi milikku. Untuk memberikan pundakku agar kau bisa bersandar. Kau tahu, Evania, untuk alasan apa pun, kau tak pantas memiliki semua kepedihan ini.

Kalimat terakhirku menyentaknya. Hentakan yang pelan tapi ternyata mampu membobol airmata yang sedari tadi ia bendung. Kubiarkan ia merebut dadaku dan jadikan tempat menangis, melepaskan semua perih yang selama ini membelenggu dan mengekang jiwanya. Kupeluk ia seerat aku memeluk dukanya. Aku tak akan melepasnya lagi untuk pergi menderita di sana. Sendiri.
Menangislah sayang, sepuasmu. Karena ini adalah hari terakhir kau berduka.”Carilah seseorang untuk kau rindukan, aku tak mungkin terus ada di sisimu. Rindumu hanya akan membebani langkahku untuk terus berjalan, menyusur hari-hariku.” katamu. Aku tertunduk. Bukan pertama kali kau meminta aku melakukan ini. Dan ini bukan hanya tentang aku yang terus merindukanmu, tapi juga masa depan yang telah kau bingkai seindah pelangi di sana. Di tempat segala duka kau kubur dan tak seorang pun mengetahuinya. Kecuali aku.

“Tidak, biarkan aku terus memujamu dengan caraku, dalam kesepianku. Sekian lama aku telah menikmati semua pahit ini, dan aku akan terus menikmatinya, sampai kutemukan cara lain untuk mencintaimu. Jika rinduku menjadi beban bagimu, anggap saja kita tak pernah bersama. Bukankah sekian lama, bagimu aku adalah kesepian.”

“Tapi kau akan terus tersiksa dengan perasaanmu, dan aku tak mungkin menutup mata dengan semua hal tentang dirimu, terlebih cinta yang kau diamkan dalam kesepianmu. Buka hatimu, ada orang lain yang bisa mencintaimu lebih baik dari aku. Kita tak mungkin bersama lagi. Kau harus mengerti keadaanku.

Evania, gadis ini kembali memohon padaku setelah dua tahun yang hilang kembali mempertemukan kami. Dua tahun yang hilang, dan hingga saat ini belum ada yang mampu meluruhkan seluruh perasaan kami. Rindu memuncak di tiap hari yang terlewat. Cinta masih berdetak sama layaknya dulu. Tapi pertemuan kali ini hanya untuk mempertegas masa silam kami akan kebersamaan yang tak mungkin lagi. Kebersamaan yang harus rela dipisahkan oleh pikiran kolot zaman Siti Nurbaya.

Aku menatapnya sambil memegang tangan yang semakin kurus itu. Mata itu, yang pernah melepaskan segala kesedihanku, kini tak mampu menyembunyikan duka meski bibirnya berusaha menutup itu dengan senyumnya yang meluruhkan kesepianku selama ini.

Dua tahun lebih aku bersembunyi. Dua tahun pula aku menyimpan semua kepinganku sambil berusaha menyusunnya kembali seperti sediakala agar kelak aku mampu bangkit dan tak seorang pun yang tahu bahwa aku pernah hancur. Kau tahu, itu tak pernah mudah bagiku. Ini jalan terberat yang pernah kutempuh dan tak seorang pun yang datang untuk menopang aku. Kini kepingan itu nyaris sempurna kususun. Aku siap untuk bangkit, tapi aku ingin kau ada jika saat itu tiba agar bisa kau saksikan bagaimana seorang yang pernah hancur karena mencintaimu bisa bangkit dari kehancurannya tapi tetap mengagungkanmu dalam cintanya. Aku tak mungkin bangkit tanpamu. Kepingan ini harus ditopang ketika akan berdiri agar tak jatuh dan hancur lagi untuk kesekian kali. Dan kamu, hanya kamu yang bisa menopangnya.

Tidak! Bukan aku. Kamu bisa bangkit bahkan berlari tanpa aku. Kehadiranku hanya akan membuatmu melangkah dalam bayang-bayangku yang tak mungkin lagi meneduhimu. Kamu harus bisa sendiri. Yang kamu butuhkan kini hanya satu keyakinan, bahwa akan ada orang lain yang mampu membuatmu jauh lebih baik. Bukan aku. Buka matamu. Dunia ini sangat luas dan aku bukan satu-satunya perempuan yang tinggal di dalamnya.

Matanya beralih ke pintu yang setengah tertutup dengan pandangan kosong, menerawangi gersangnya rumpun pisang yang nyaris kering terbakar terik. Aku berharap ia dapat merenungi hidupku dari rumpun pisang itu. Hidup yang nyaris kering. Untuk terus hidup, harus ada yang menyiramnya dengan cinta dan perhatian yang tulus.
***
Memang benar apa yang dikatakan Evania. Evaniaku yang kini telah merintis deritanya dalam kesepian di negeri batas. Kesepian yang sengaja ia ciptakan untuk untuk menghalau lebih banyak duka berkecamuk dalam dadanya yang telah penuh dengan goresan luka masa lalu. Aku mengaguminya. Ketegaran Evania untuk terus bertahan menghadapi kehidupan yang bukan mimpinya. Dan bukan mimpi semua perempuan, tentu saja. Mimpi-mimpi yang ia ciptakan semenjak gadis harus ia buyarkan kala ia harus menikah dengan seorang lelaki yang tidak lebih dari pecundang. Lelaki yang tak pernah peduli apa yang dimakan seorang Evania dan anaknya. Lelaki yang menggunakan bajunya sirahnya agar selalu terlihat bijaksana dan berwibawa.

Di negeri barunya, Evania harus menciptakan juga mimpi-mimpi baru untuk hidupnya dan membangun semua itu dalam waktu satu malam. Bagaimana tidak, ia seperti memasuki belantara yang sangat kelam dan asing. Ia harus bergulat antara rasa takut oleh kekelaman itu atau mencari jalan agar mampu beradaptasi. Bertahan dengan rasa takut hanya akan membuat ia dikuasai oleh ketakutan itu sendiri dan kekelaman akan semakin menjerumuskan ia ke dalam ngarai yang kian dalam. Evania sungguh perempuan tangguh. Ia berhasil melawan arus, membalik ketakutan dan menerangi kekelaman jalannya, dan pada akhirnya dialah yang memegang pelita dikendalinya dalam hitungan waktu yang singkat.

Namun, sehebat-hebatnya seseorang dikehidupannya, toh ia memiliki rasa rindu untuk menggenggam kembali mimpi-mimpinya di masa silam. Inilah yang tak mampu ia kendalikan. Prahara rumah tangganya dari hari ke hari kian menjadi ruwet. Rasa cinta kian hari hanya sebuah kata untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan formal. Nyaris tak lagi bergetar.

Aku memahami semua yang terjadi pada Evaniaku akhir-akhir ini. Ia bangun mimpi tapi harus kandas oleh ego seorang bajingan. Dan bajingan itu juga yang memporak-porandakan ruang hati yang kusiapkan khusus untuk Evania tapi tiba-tiba hancur oleh undangan pernikahan yang sampai ke rumahku. Berhari-hari aku kehilangan selera makan, hanya tidur dan meratapi nasib hingga akhirnya aku merasa sadar, bahwa mungkin inilah jalan Tuhan untuk memberi kebahagiaan bagi Evaniaku. Mungkin pernikahannya akan mampu memunahkan luka dan duka yang sebelumnya sering digoreskan dengan sempurna oleh sekian jumlah lelaki dalam hatinya. Aku mencoba iklas meski tak iklas oleh kenyataan ini. Dengan segala kekuatan, aku menggenggam tangannya, memberikan kecupan terakhir tatkala ia dipinang secara adat, lalu pergi dari kehidupannya selama berwaktu-waktu.

Aku pergi darinya untuk membuang segala perasaan tentang dia dengan susah payah. Berbulan-bulan kugembalakan kehidupan ini dalam padang kritis dukaku. Menjaga hakikat rindu sestabil mungkin agar tak terperosok ke dalam ngarai duka yang kelam. Hingga pada satu titik dan aku merasa percuma dengan perjuanganku menghalau bayang-bayangnya. Ia kurindukan kala malam dan siang, kala panas dan hujan. Pada akhirnya, ia menjadi alasan mengapa aku harus berdoa. Ia menjadi alasan aku harus menjadi kian tegar. Ia menjadi alasan bagiku untuk kembali menemukan dunia yang hilang, mencari lagi kepingan yang telah terbuang dan menyatukannya lagi.
Kami bertemu di sudut peradaban yang telah lama kutinggalkan setelah perpisahan yang sangat lama. Perjumpaan ini meninggalkan kesedihan yang teramat sangat, menambah lagi sehasta duka dalam cerita kelamku. Evania bukan lagi seperti yang kubayangkan. Sosok magis itu kian kurus tubuhnya termakan derita kesendiriannya. Pundaknya dipenuhi tanggungjawab kehidupan yang berat, melebihi apa yang mampu ia pikul.

Saat itu aku sadar, yang ia butuhkan bukan hanya doa. Tapi juga pelukan agar ia tak merasa sendiri menjalani hidupnya. Ia butuh teman berbagi duka. Teman yang mampu mengerti segala hal dalam pergumulan hidupnya. Ia butuh aku untuk mengurangi lingkar matanya yang menghitam termakan airmata. Ia butuh pundakku untuk berbagi beban hidupnya. Ia adalah cintaku. Maka kurelakan hatiku, jiwa dan ragaku untuk memberi setiap hal yang ia butuhkan untuk menemukan kembali kebahagiaan sejati yang sekian lama menghilang dari kehidupannya.
***
Aku kembali memegang tangan itu. Tangan Evaniaku yang malang, memberinya isyarat agar melihat aku yang di sisinya. Tapi Evania tetap menujukan matanya ke arah pintu dan gersang rumpun pisang di depannya. Dan aku merasakan gemuruh di dadanya, pergumulan batinnya antara menahan airmata agar tak mengalir atau membiarkan semua kesedihannya mengalir deras di hadapanku.

Evania, kau tahu? Jiwa kembaraku mengarahkan langkah untuk kembali kepadamu. Hatiku setiap hari berseru-seru dalam dada untuk datang padamu. Bukan karena aku tak mampu menemukan perempuan lain, bukan. Bukan itu. Aku kembali, karena aku harus kembali kepadamu. Aku tidak datang untuk menawarkan kebahagiaan yang dulu pernah kusiapkan. Tidak. Aku juga tak datang untuk mengambil sisa kebahagiaanmu. Tidak. Sama sekali tidak. Aku tak datang untuk itu. Aku terlahir bukan untuk berbagi kebahagiaan denganmu tapi untuk mengambil semua duka dari hatimu menjadi milikku. Untuk memberikan pundakku agar kau bisa bersandar. Kau tahu, Evania, untuk alasan apa pun, kau tak pantas memiliki semua kepedihan ini.

Kalimat terakhirku menyentaknya. Hentakan yang pelan tapi ternyata mampu membobol airmata yang sedari tadi ia bendung. Kubiarkan ia merebut dadaku dan jadikan tempat menangis, melepaskan semua perih yang selama ini membelenggu dan mengekang jiwanya. Kupeluk ia seerat aku memeluk dukanya. Aku tak akan melepasnya lagi untuk pergi menderita di sana. Sendiri.
Menangislah sayang, sepuasmu. Karena ini adalah hari terakhir kau berduka.

Comments off

Cerpen : Asisten Mbah Dukun

Asisten Mbah Dukun

Cerpen karya Janu Jolang

Bagus, seorang sarjana lulusan ilmu Fisika nganggur hampir setahun. Keadaan ekonomi akhir-akhir ini sedang memburuk, lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya susah didapat. Jangankan profesi sebagai peneliti di bidang Ilmu Pasti, atau teknisi pabrik yang berkaitan dengan mekanika dan kelistrikan, bahkan untuk posisi guru Fisika di SMP-pun tak ada lagi. Mbah Parjo pamannya yang berprofesi sebagai dukun akhirnya menawari Bagus untuk bekerja. Jadilah ia kini sering terlihat mondar-mandir ke pasar Wage beli kemenyan, kembang setaman, minyak Fanbo, dan juga sebagai asisten yang mendampingi mbah dukun ketika pasien sedang digarap.

Mbah Dukun Parjo belumlah tua, berusia 50 tahun, berperawakan pendek di luar ukuran rata-rata. Ia seorang yang berwibawa sekaligus pandai meyakinkan orang. Kata-katanya bagai sugesti alam bawah sadar yang tertanam kuat mencengkeram kesadaran pasiennya. Mau dikata apa, Asti si janda genit usia 40 tahun dari kampung Kranji sampai rela tubuhnya dimandikan telanjang demi mengembalikan kemolekannya saat usia 27 tahun. Bagus tak kuasa menyembunyikan gairah syahwatnya ketika melihat lekuk tubuh sang janda yang terbalut lembut sinar bulan purnama. Ia sedikit malu menyadari tubuhnya gemetar ketika menciduk air tujuh rupa dan kembang setaman lantas buru-buru menyiramkan pada tubuh Asti. Kini tubuh sintal itu sedang diraba-raba paman sebagai syarat memasukkan japa mantra agar awet muda. Tinggal selangkah lagi janda molek itu pasti akan disetubuhi paman di atas altar batu tanpa berontak sedikitpun.

Di sela-sela waktu senggang, ketika mbah Parjo sedang ngorok disiang hari, Bagus membersihkan kamar praktik mbah dukun sembari mendengarkan lagu-lagu Guns and Roses dari MP3 playernya. Lagu Welcome to The Jungle disetel keras-keras untuk mengusir rasa seram ketika ia melihat hiasan tengkorak yang remuk di ubun-ubun, keris-keris yang berserakan di meja, bau kemenyan bakar yang bekasnya menggunung, serta semerbak bunga melati yang memenuhi ruangan.

Di sore hari ketika sedang tak ada pasien Bagus membersihkan pekarangan rumah yang kebanyakan ditanami pohon Bambu Kuning, Tebu Ireng, Cocor Bebek dan Jambu Dersono. Tanaman kepercayaan Mbah Parjo ini dikatakannya untuk menjadikan tanah adem, sebagai penangkal santet, dan media penyembuhan orang yang terkena guna-guna. Bagus manggut-manggut, tapi dalam hati kecilnya susah untuk percaya. Dukun jaman sekarang ternyata tak mau disebut kuno dan menyesuaikan diri dengan pemikiran yang makin modern. Tradisi keilmuanpun diikutkan untuk menjelaskan ilmu santet secara ilmiah. Klaim ilmuwan bahwa tanaman Tebu Ireng, Bambu Kuning, Jambu Dersono, dan Cocor Bebek bermuatan listrik negatif akan menolak kekuatan setan dan santet yang juga bermuatan listrik negatif. Hukum Coulomb dipakai untuk membuat orang yakin, tapi ilmuwan mana yang mengadakan penelitian itu? Setan bermuatan listrik negatif? Bagus menggeleng-gelengkan kepala. Daun-daun kering yang berserakan itu akhirnya disapu dan kemudian dikumpulkan untuk dibakar.

Bagus tak begitu tertarik dengan kekuatan-kekuatan ghaib. Bertahun-tahun ia belajar Ilmu Pasti, ilmu Fisika, ilmu yang masuk di akal alias nalar, tapi kini ia dipaksa berurusan dengan hal yang berbau klenik, hal yang tak pasti dan tak masuk di akal. Pernah ia tertegun dan bengong ketika pamannya mengeluarkan seonggok paku dan jarum karatan dari perut pasiennya. Ini santet datang dari arah Barat….. dari Banten nak Wiwin.

Wah ini pasti kerjaan si Jarwo mbah …, dia iri tender ngaspal jalannya kalah lagi, kata Wiwin.
Ini santet mau dikembalikan po nak Wiwin, ujar mBah Parjo dingin.
Iya mbah.., Wiwin setuju. Tubuhnya kini terasa enteng, rasa sakit yang melilit perut akhir-akhir ini hilang seketika.

Dan seperti kilat cahaya yang tiba-tiba membuat terang benderang kamar praktik mbah dukun, paku dan jarum berkarat itu menghilang seperti ditelan bumi. Bagus tercengang bagaimana semua bisa hilang bersamaan dengan meredupnya cahaya. Bagus mencoba menerka-nerka dengan logika tapi malah membuat dia pusing kepala. Ia ingin bertanya pada Einstein tentang benda yang diikutkan kecepatan cahaya akan musnah karena gesekan yang sangat cepat, tapi kemudian tiba-tiba membentuk kembali wujudnya dan bersemayam di perut si penyantetnya?

” Santet sudah saya kembalikan ke Jarwo, nak Wiwin.”

Mbah dukun Parjo sendiri tak perlu repot-repot menjelaskan, semua sudah ada yang menangani. Ya, kekuatan ghaib yang dimilikinya konon turunan dari kakek Bagus, ditambah lelakon tapa brata yang sering dilakukan kala masih muda. Bagus kembali membayangkan seolah paku dan jarum itu dicacah - cacah menjadi ukuran kecil hingga bisa memasuki pori-pori tubuh langsung menembus perut. Paku dan jarum itu seolah masuk mesin teletransporter seperti dalam film Star Track yang sering ditontonnya, membentuk wujudnya kembali dan bersemayam di dalam perut. Hilang di sini dan muncul di sana.

++++

Sore hari - Rabu Wage, Wiwin si pengusaha muda yang sedang menanjak bisnisnya di kota kecil Purwokerto itu sowan kembali ke mbah Parjo. Wiwin menganggap mBah Parjo adalah panutan sekaligus penolong dalam masalah yang dihadapinya. Sambil mengeluarkan foto perempuan cantik, Wiwin berkata tanpa sungkan,Mbah Parjo, Desi kembang kampus ini bikin aku tergila-gila. Tolong dijampi-jampi ya mbah biar dia cinta sama saya.

Mbah Parjo manggut-manggut. Rasa percaya dirinya seolah menyentuh langit, ilmu peletnya dikenal luas sangat ampuh. Banyak lelaki tua muda yang mengalami krisis identitas datang menemui mbah dukun untuk meminta pertolongan, semua karena alasan yang sama: cintanya ditolak. Juga ibu-ibu setengah baya yang mulai resah akan wajah dan tubuh mereka yang tak seindah dulu lagi. Pilihan susuk awet muda ibarat sebuah menu siap saji diantara daftar menu yang paling digemari mereka.

Mbah Parjo mengamati wajah dalam foto itu. Dahinya mengkerut, matanya seolah menerawang, Wah … ini banyak yang nguber-uber, mas Wiwin. Perempuan ini sepertinya tahu kalau dia cantik. Dia orangnya pilih pilih. Siapa namanya? Oh jeng Desi ya.., sepertinya dia belum serius mikir pacaran.

Tapi mbah, bisa kan kalau Desi dibikin kinthil sama saya?
Wah tenang saja mas Wiwin, embah kasih pelet yang cespleng biar jeng Desi tergila-gila sama sampeyan. Sampeyan ndak usah repot-repot nglakoni pake puasa mutih segala. Serahkan semuanya pada mbah.

Foto Desi ditaruh dalam gundukan kemenyan, dalam komat kamit si mbah dukun menyebut nama lengkap Desi sembari bergumam dalam japa mantra. Tiba-tiba dari mulutnya keluar jarum emas yang jatuh tepat di atas foto Desi. Diambil jarum itu dan dari ujungnya timbul lilitan hitam lengket seperti kemenyan. Kotoran seperti upil itu lantas dilengketkan pada sepotong rajah bertuliskan Arab gundul dan diikat rapi dengan benang kasur.”

“Jeng Desi pasti akan lengket sama nak Wiwin,” suara mbah dukun mantab sambil meyerahkan rajah itu kepada Wiwin.

Keesokan harinya datanglah seorang pemuda ganteng, juga membawa foto Desi. Bagus penasaran betapa seorang Desi mampu membuat — setidaknya dua lelaki tergila-gila padanya. Bukankah Desi sebetulnya yang punya pelet cinta?

Mbah, saya tresno-mati sama perempuan yang di foto ini. Saya mohon mbah, tolong dijodohkan saya dengan dia. Apapun lelakon yang harus saya jalani pokoknya saya manut.
Edaaaaan … ternyata benar si Desi banyak yang naksir, batin Bagus si sarjana Fisika, si pemuda bernama Ipung ini tampak merana karena cinta.”
Wah tenang saja nak Ipung, embah kasih pelet yang cespleng biar jeng Desi tergila-gila sama sampeyan. Sampeyan ndak usah repot-repot nglakoni pake puasa mutih segala. Serahkan semuanya pada mbah.

Dan ritual yang sama dilakukan oleh mbah dukun, ” Jeng Desi pasti akan lengket sama nak Ipung.”

Bagus tak habis pikir dengan permintaan dua lelaki yang ingin mendapatkan Desi. Ia lebih tercengang lagi ketika pamannya memberikan japa mantra yang sama, berkata - kata yang sama, dan memberikan garansi yang sama. Dijamin keduanya akan mendapatkan cinta Desi.

Sebetulnya mbah Parjo-lah yang selalu menerangkan kepada Bagus sang keponakan bahwa ilmu ghaib itu masuk di akal. Seperti cara kerja pelet yang disebut paman sebagai energi yang ditransfer untuk mempengaruhi alam bawah sadar dan memicu otak merasakan cinta, rindu, kangen, dan ingin selalu bertemu dengan pemeletnya. Bagus manggut-manggut mendengarkan penjelasan paman. Ingin ia mempercayai tapi dalam hati kecilnya ada sesuatu yang menolak.

Energi apakah yang ditransfer? Apakah energi listrik yang bisa membuat terang benderang seantero kota Purwokerto? Atau energi atom yang sanggup meluluh lantakkan Hiroshima? Andai dua japa mantra ibarat dua rudal Patriot yang siap diluncurkan dari Mobil Peluncur Roket, seorang komandan perang artileri tak akan pernah membidikkannya pada satu titik sasaran yang sama. Betapa bodoh jika ia membidik satu target dengan dua peluru.

+++

Jum’at Kliwon mbah Parjo kedatangan enam orang tamu. mereka para pemburu harta karun Soekarno. Salah satunya adalah pensiunan jenderal polisi, yang lain adalah pensiunan pejabat PU dan pensiunan pegawai tinggi Departemen Agama. Masing-masing membawa ajudan. Mitos harta peninggalan Soekarno yang berjumlah ratusan trilyun dan tersimpan secara ghaib membuat orang-orang berlomba-lomba untuk menguasainya. Tak peduli seorang menteri di Jakarta atau tukang becak di stasiun Gubeng semua terpikat dengan mimpi indah menjadi kaya raya. Beberapa orang bahkan terobsesi dengan pemanfaatan harta karun untuk menyelamatkan bangsa, sungguh jumlah harta yang sanggup membayar semua utang luar negeri, menyantuni semua fakir miskin, dan membuat rakyat makmur jibar jibur. Satrio Piningit sang Juru Selamat Indonesia telah hadir.

Mbah Parjo sendiri tak ambil pusing dengan jumlah trilyunan yang diimpikan banyak orang. Dia cukup ambil keuntungan sekedarnya dari prosesi ritual yang menjadi syarat ubo rampe seperti minyak pemanggil jin, candu dan jenis minyak lain yang dibutuhkan. Dari suplier kios pasar Pasar Wage yang berjualan aneka minyak ritual mulai minyak Jafaron sampai Misik dan Gaharu — mbah Parjo bisa mengambil keuntungan dengan menaikkan harga sesuka dia kepada pasien-pasiennya. Dan jumlah tersebut adalah lebih dari cukup sebagai ladang bisnis yang sangat menguntungkan.

Piranti untuk ritual pengambilan harta Soekarno telah disiapkan Bagus ke dalam sebuah tas kulit, isinya adalah: tongkat komando milik Soekarno, uang kertas Soekarno yang bisa melipat secara gaib (dan ini harganya bisa jutaan rupiah), menyan, candu, minyak pemanggil Jin yang konon asli dari Yaman, samurai kecil untuk keperluan harakiri peninggalan Jepang, serta lantakan emas 24 karat yang konon diambil secara ghaib dari tanah Pasundan.

Ketika rombongan sudah siap akan berangkat Wiwin si pengusaha sukses itu tiba-tiba datang — menyela minta waktu sebentar kepada mbah Parjo. Dari raut wajahnya ia seperti membawa masalah.

” Mbah saya ada masalah penting nih.”
” Jangan sekarang nak Wiwin. Hari ini mbah ada ritual mau mengangkat harta karun Soekarno.”
” Tapi mbah …,” protes Wiwin.
Urusan nyantet si Purwadi bisa ditunda. Apalagi ini bukan hari baik buat nyantet. Sudah nak Wiwin ikut saja sama kita.

Bagus yang mendengarkan percakapan kedua orang itu merinding. Mau menyantet orang kok masih bisa ketawa-ketawa, sambil tawar menawar.
” Malem Sabtu ya mbah?” kata Wiwin.
” Beres nak Wiwin,” mbah Parjo menyanggupi.

Jadilah mereka bersembilan berangkat dengan dua mobil menuju bukit Kemuning. Sore itu awan cerah udara sejuk. Perjalanan menuju kaki gunung Slamet itu penuh kegembiraan. Wiwin menyetel keras-keras musik kesukaan Bagus Welcome to The Jungle sambil memukul - mukul setir mobil seolah penggebuk drum Guns and Roses. Bagus yang duduk di jok tengah walau tampak malu-malu mengikuti beat lagu dengan menggerak-gerakkan jari jemarinya seolah Slash sedang memainkan gitarnya. Hutan belantara di kiri kanan seolah menyambut kehadiran mereka dengan keramahan yang ceria. Wiwin dan Bagus terhanyut dalam ekstasi lagu itu.

Tiba-tiba mbah dukun Parjo memotong keasyikan mereka berdua, Nak Wiwin, kita jangan lewat jalan utama, lewat Kemutug saja lebih aman.

Mbah lewat Kemutug jalannya sempit, terjal, dan berliku…., protes Wiwin.
Sudah — Nak Wiwin percaya sama saya. Walau agak repot, ini sudah tak terawang — hitungan Nagadina-nya sudah tepat. Kalau lewat sini kita pasti dihadang pasukan jin. Bisa-bisa kita cilaka … nggak slamet.

Wiwin mematuhi omongan mbah dukun, ia memutar balik mobil Pajeronya dan mengambil jalan yang dianjurkan. Mobil di belakangnya yang berisi rombongan pensiunan jenderal polisi itu mengikuti. Dikejauhan terlihat tebing curam sangat indah. Jalan sempit dan terjal menyusuri hutan belantara mengingatkan kembali Bagus pada masa-masa SMA saat berkendara motor bersama teman-temannya menuruni jalanan terjal dengan mematikan mesin motor sambil berdiri lepas tangan. Angin gunung yang menerpa tubuh mereka dengan kencang dirasakan seolah sedang melayang di awang-awang. Mereka bersorak gembira.

Satu jam perjalanan ditempuh, Bukit Kemuning sudah kelihatan di depan mata. Setelah rombongan melewati tikungan, jalan tanjakan panjang akan mengantarkan mereka pada tempat pemberhentian yang dituju. Tampak di kejauhan sebuah truk Fuso membawa gelondongan kayu menuruni jalan dari arah depan. Wiwin mengurangi kecepatan sambil meminggirkan mobil ke tepi jalan. Dalam jarak yang sudah diperkirakan truk itu akan berpapasan secara aman, tak disangka laju truk tiba-tiba oleng seperti gajah mabuk. Wiwin yang berada dibalik kemudi tak sempat menghindar lagi. Moncong sebelah kanan truk itu langsung menghajar bagian depan mobil Pajero Wiwin. Suara berdebum dan bunyi kayu gelondongan yang tiba-tiba lepas dari ikatannya terdengar keras sekali. Mobil Pajero Wiwin ringsek dihantam truk, kayu gelondongan berjatuhan menimpa atap mobil. Semua penumpang di dalam mobil Pajero panik.

Mbah Pajero .. Eh mbah Parjo piye tho!!! Milih waktu dan jalan kok salah. Wah… apes tenan .. aku ….., ratap Wiwin.

Ratap tangis Wiwin tak dihiraukan mbah Parjo. Ia sendiri sedang meraung-raung kesakitan. Tolong … tolong, seolah si sakti mandraguna kehilangan kewibawaan dan daya magisnya, kini ia merengek seperti anak kecil yang lemah, ketakutan, seraya menangis karena sakit yang luar biasa.

Rombongan mobil di belakang segera menghentikan kendaraannya. Pensiunan jendral polisi dengan sisa-sisa kegesitannya menghampiri mobil Pajero yang ringsek. Mereka berusaha menolong tapi kesulitan. Atap mobil ringsek tertimpa gelondongan kayu, mesinnya melesak ke dalam dashboard. Mbah dukun Parjo dan Wiwin terjepit di dalamnya, darah mengucur dari sekujur tubuh mereka.

“Ini pasti ulah jin penunggu harta pusaka Soekarno,” ujar pensiunan jenderal polisi sambil berusaha membuka pintu mobil yang ringsek. Pensiunan pegawai tinggi Departemen Agama itu mengamini sang jenderal sambil komat-kamit membaca rapalan doa pengusir jin. Pensiunan pegawai PU terlihat sibuk menganalisa sudut kemiringan jalan, kondisi truk Fuso yang masih baru, sopir truk yang sadar, sambil bergumam mustahil untuk terjadi kecelakaan. Bagus dalam kesakitan masih bisa merasa heran dengan cara pikir orang-orang terpelajar yang pernah menduduki jabatan tinggi dalam birokrasi itu. Rasa-rasanya akal sehat mereka sudah hilang.

Ya, selama menjadi asisten pamannya ia selalu dihadapkan pada keseharian hidup yang berada dalam bayang-bayang dunia okultis, sebuah kehidupan yang dirasakan nyata tapi dipaksa ada kenyataan lain dibaliknya. Kejadian yang mestinya sebuah kesederhanaan dimaknai mbah dukun dan pasien-pasiennya sebagai hal yang rumit dan tak masuk akal. Kalah pilihan Lurah identik dengan kurang sesaji, istri selingkuh identik dengan kena guna-guna, sakit demam identik dengan kesambet setan, tidak naik jabatan identik dengan kalah aji pengasihan. Dan kini si pensiunan jenderal polisi itu masih sempat bergumam bahwa kecelakaan ini akibat marahnya jin penunggu harta pusaka Soekarno. Bagus selama ini mencoba menerima semua kenyataan itu — tapi lama kelamaan penolakan itu mencapai puncaknya. Perhatiannya kini terarah pada mbak dukun dan Wiwin yang sekarat dijemput maut. Ia tak tahu harus menyalahkan siapa.

Ia kini hanya bisa merasakan kedua lututya terjepit. Ia yakin, dari rasa kebas dan sakit yang luar biasa — tulang-tulang kakinya sudah remuk terhimpit badan mobil. Dan itulah sebuah kenyataan. Kenyataan berada pada tempat yang salah dan waktu yang salah.

Comments off

Kata Mutiara - Kata Bijak - Kata Cinta

Kata Mutiara - Kata Bijak - Kata Cinta. Kumpulan Kata Mutiara Terbaik, Kata Bijak dan Kata Cinta Romantis Terindah.

Kata Bijak :

Saat anda mendapatkan yang biasa ketika mendambakan yang terbaik, bersyukurlah, karena anda tidak mendapatkan yang terburuk.

“Kegagalan adalah peluang untuk hal yang lebih baik. Kegagalan adalah batu loncatan untuk pengalaman yang berharga. Suatu hari nanti Anda akan bersyukur untuk beberapa kegagalan yang anda alami. Percayalah, ketika satu pintu tertutup untuk anda, sebenarnya pintu yang lain selalu terbuka”

Melihat kebelakang akan membawa kejelasan di depan. Belajar dari kesulitan dulu akan membawa berkah sekarang dan nanti.

Hidup adalah memilih, namun untuk memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa Anda dan apa yang Anda perjuangkan, ke mana Anda ingin pergi dan mengapa Anda ingin sampai di sana.

“Keyakinan adalah percaya dengan apa yang tidak kita lihat, dan upah dari keyakinan adalah melihat apa yang kita yakini.”

Kesedihan adalah ibarat terdampar di gurun pasir. Hal terbaik adalah berusaha keluar dari gurun pasir tersebut.

Inti dari kebahagiaan adalah kumpulan kebahagiaan dari hal-hal kecil.

Sebenarnya sangatlah mudah menjadi Bahagia. Kebahagiaan akan datang saat kita memaafkan diri kita sendiri, memaafkan orang lain, dan hidup dengan penuh rasa syukur. Tidak pernah ada orang egois dan tidak tahu berterima kasih mampu merasakan bahagia, apalagi membuat orang lain bahagia. Hidup ini memberi, bukan meminta.”

Kebahagiaan adalah pengalaman spiritual dimana setiap menit hidup dilalui dengan cinta, dan rasa syukur.

Jangan takut akan bayangan, karena bayangan berarti ada suatu cahaya yang bersinar di dekatnya.

Masa-masa terbaik dalam hidup adalah saat kita mampu menyelesaikan masalah sendiri, Masa-masa suram kehidupan adalah saat kita menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi.

“Manusia seperti puluhan kolam, masing-masing memantulkan cahaya dari bulan yang sama.”

“Kebijaksanaan adalah pemahaman nilai-nilai abadi dan nilai-nilai hidup.”

“Kebaikan adalah lebih penting daripada kebijaksanaan, dan menyadari hal ini adalah awal dari kebijaksanaan.”

Bijaksana adalah kumpulan dari perjalanan hidup kita. Kebijaksanaan tidak bisa dicari, tidak bisa diberikan, dan tidak bisa dibagikan. Kebijaksaan adalah diri kita sendiri.

Jika anda merasa pendapat anda tidak didengar, ketahuilah, sebenarnya anda tengah belajar untuk menghargai.

Setiap kejadian-kejadian kecil hidup kita adalah bagian dari harmoni total alam semesta, semuanya sudah ada yang mengatur dengan sempurna. Jalanilah hidup apa adanya.

Orang Bijak adalah orang yang menyimpan kebijakannya untuk dirinya sendiri.

Bicaralah dari hati dan dengan hati, karena hati bisa mendengar lebih tajam daripada telinga.

Jangan terlemahkan oleh angin permasalahan. Layang-layang mampu terbang tinggi karena berani melawan angin. Hanya layang-layang yang putus benang yang hanyut oleh angin.

Jika anda merasa tidak memiliki hal yang berharga, ketahuilah, anda memiliki hal yang tak ternilaikan, yaitu senyuman.

Jika anda melalui hidup anda tanpa masalah, ketahuilah, anda melewatkan masa terindah hidup anda.

Berjalan lah seperti kau tak membutuhkan uang, mencintailah seperti kau tak pernah terluka, berdansalah seperti tak ada orang yang memperhatikan.

Saat kau berpikir tentang orang yang cantik dan tampan, pikirkanlah bahwa kau adalah bagian dari mereka.

Berbuat baik pada orang lain lebih sulit daripada berperang melawan penjajah.

Mengucapkan Maaf hanya mampu dilakukan oleh orang-orang pemberani.

Anda harus jadi ulat terlebih dahulu jika ingin menjadi kupu-kupu

Kekuatan bukanlah tentang memukul sekuat tenaga, tetapi tentang ketepatan sasaran.

Kemenangan adalah bagian terkecil dari sebuah pertandingan.

Pemenang bukannya tak pernah gagal, tetapi tidak pernah menyerah.

Tuhan telah memberikan kita Ikan, tinggal kita yang harus memgail untuk mendapatkannya.

Keindahan sejati tak bisa dilihat oleh mata, hanya hati yang mampu merasakan keindahan sebenarnya.

Waktu akan terasa lambat bagi mereka yang menunggu, terlalu panjang bagi yang gelisah, dan terlalu pendek bagi yang bahagia. Namun Waktu adalah keabadian bagi yang mereka mampu bersyukur.

Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Fokuslah pada kelebihan kalian, jangan fokus pada kekurangan kalian.

Jika kamu takut melangkah, lihatlah bagaimana seorang bayi yang mencoba berjalan. Niscaya akan kau temukan, bahwa setiap manusia pasti akan jatuh. Hanya manusia terbaik lah yang mampu bangkit dari ke jatuhannya.

Tuhan adalah sebagaimana yang kamu pikirkan, Jika kau berpikir Tuhan itu Baik, maka Tuhan akan baik padamu. Namun jika kamu pikir Tuhan itu Buruk, maka Tuhan akan memperlakukan mu dengan Buruk.

Jika kamu tidak suka apa yang ada di sekeliling mu, ubahlah, setidaknya ubahlah dirimu sendiri. Ingat, kamu bukan sebatang pohon.

Manusia terbaik adalah yang selalu berusaha membuat orang lain senang. Lakukanlah walaupun kamu harus meninggalkan mereka dan sendirian.

Kelebihan kita adalah, kita mampu memulai, dan kita juga mampu untuk MENGAKHIRI.

Kita Selalu punya pilihan tiap hari. Tinggal kita memilih, memulai niat baik yang kemarin, ataukah menunggu dan mendapatkan rasa penyesalan besok.

Jika kamu melihat dunia, maka lihatlah kebawah, karena jika kau menengadah, maka yang kau dapatkan adalah sakit leher dan mata yang berkunang-kunang.

Hidup ibarat menaiki sepeda, agar tidak terjatuh dari sepeda dan menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak, dan mengayuhkan kaki.

Sebaik-baiknya perdagangan, adalah menjual amal baik untuk ditukarkan dengan surga.

Yang terbaik adalah : “Aku telah mencobanya”, dan yang terburuk adalah : “Aku akan mencobanya”

Kadang kita lupa, bahwa untuk melihat diri kita, jalan terbaik adalah melalui mata orang lain.

Ingatlah, kepedihan kita hari ini akan terasa indah dan manis saat kita mengingatnya kelak.

Kumpulkanlah kesalahan saat ini, karena kelak kumpulan kesalahan yang bernama pengalaman itu akan membawamu kepada puncak ke suksesan.

Tuhan sebenarnya tengah bermain catur dengan kehidupan kita. Dia menggerakkan bidak-bidaknya bernama tantangan, cobaan dan godaan, kemudian duduk kembali melihat reaksi kita. Jadi buatlah langkah terbaik sebelum Tuhan memberi kita Skak Mat.

Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat yang tulus, meski mereka berlaku buruk padamu.lngatlah bahwa penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tapi karena siapakah dirimu.

Burung Hantu dijadikan simbol kebijakan, karena Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia bicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak mencoba menjadi seperti burung hantu yg bijaksana itu?

Berduka, berkabung dan menyesali tak kan pernah mampu mengubah keadaan. Hanya bergerak, melangkah dan berbuatlah yang bisa menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan.

Berbuatlah dan jalankan semua impianmu, karena sebenarnya dalam dirimu telah terdapat energi dan kemampuan untuk melakukan apapun.

Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk mengamati dan mengurusi kesalahan orang lain.

Orang yang gagal selalu mencari jalan untuk menghindari kesulitan, sementara
orang yang sukses selalu menerjang kesulitan untuk menggapai kesuksesan.

Sebenarnya kegagalan kita bukanlah karena adanya kesulitan yang menghambat langkah kita, Tetapi karena ketidak beranian untuk melawan rasa takut dalam diri.

Jadilah manusia yang pada saat kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tapi hanya kamu sendiri yang menangis. Dan pada saat kematianmu semua orang menangis sedih, tapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.

Bila kegagalan itu bagai hujan, dan keberhasilan bagaikan matahari, maka butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Anda bisa memiliki apa pun yang Anda inginkan, jika Anda mampu menghilangkan keyakinan bahwa anda tidak akan mendapatkan yang anda inginkan.

Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum anda miliki, maka Anda akan harus melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan.

Kata Mutiara Cinta :

waktu disisimu saya jadi hidup. waktu kau pergi saya jadi sunyi. ku pingin kau selamanya disisiku… sayang.

bila saya kudu pilih buat bernapas atau mencintaimu, jadi akan ku pakai napas terakhirku buat mengatakan saya mencintaimu

rekan dapat membuat kamu tertawa, teman dekat dapat membuat kamu bergembira, tetapi yang tulus mencintailah yang dapat membuat kamu hidup.

dua jiwa, dua hati berpadu berbarengan, didalam bahtera terindah bernama cinta.

cintaku padamu yaitu air, yang senantiasa mengalir, dan tidak berpaling, yang senantiasa mengalir, dan tidak beralih, yang senantiasa mengalir, dan tidak berakhir…

cinta yaitu kerinduan buat dipahami oleh seseorang yang betul-betul tulus buat hiraukan. saat seseorang dipahami, ia akan dapat bertahan terhadap apapun didunia ini.

cinta yaitu penderitaan terindah yang sangat dicari manusia.

malamku jadi fajar yang indah karenamu…

cinta yaitu perihal paling baik dan sangat indah didunia, tidak bisa dilihat atau apalagi disentuh. cinta kudu dirasakan dengan hati..

kadang-kadang, waktu kau dekat, saya kehilangan semua kata-kataku. dan waktu itulah saya mengharapkan, mataku bicara perihal perasaanku padamu.

cinta dapat menghangatkan hati yang dingin, layaknya matahari yang mencairkan gunung salju.

bila mencintaimu hanya mimpi bagiku, jadi biarkan saya tertidur selamanya.

cinta yaitu seberkas sinar terang didalam kegelapan malam.

cintaku padamu layaknya simponi terindah

waktu saya ada di padang pasir kehidupan, saya mengharapkan cintamulah yang akan sejukkan jiwaku.

bila pelukan mewakili betapa saya mencintaimu, jadi saya akan memelukmu erat selamanya.

cinta yaitu misteri yang sukar dipahami. cinta yaitu kebahagiaan yang terpancar didalam diri, walau kadang-kadang cinta juga membawa rasa sakit.

yang kuharap malam ini cuma tentangmu. yang kuinginkan sekarang ini cuma damaimu.
yang kupinta detik ini cuma bahagiamu. met tidur, sayang….

pagi yang tercerah yaitu saat bersamamu, malam yang terindah yaitu saat mendengarkan nada mu, hati yang sangat bahagia yaitu saat mempunyai mu selamanya

janganlah sempat berasumsi perihal biasa seorang yg berikan perhatian yang tulus padamu, dikarenakan akan jadi amat luar biasa disaat kamu rapuh dan terjatuh.

biarkan cinta mengalir apa adanya, terdengar indah seperti suara, jadi obat untuk yang terluka, jadi penguat yang putus harapan, jadi penerang waktu gulita, hadirkan tawa ditengah duka.

cinta seperti menggenggam sekuntum mawar, makin keras kau menggegam, makin duri menusuk tajam, tetapi makin lembut kau memegang, jadi makin gampang sang mawar terbang terbawa angin.

cinta seperti api, bila kau jaga dengan indah, jadi cinta akan menghangatkanmu, tetapi bila kau siram dengan cemburu, jadi cinta akan membakar dirimu.

bila kau menangis. . hatiku pun bersedih
bila kau suka. . hatiku pun berbunga
bila kau gelisah. . hatiku pun bergejolak
ini semua dikarenakan. . . kita sehati. . .

i ve searched my heart for dawords 2 say just how much u mean 2 me.
u r al of Gods Blessings rolled into one.my dreams,
my desires,my evening,my sun,my evening walking moment,
my hpes en my fears,mydisillusion, my contentment,
my joy nd my tears. But most important of all,
i tank God when i pray bcoz u mke every moment my

Bunga mawar jangan di bungkus kalau dibungkus hilang sarinya punya pacar jangan diputus kalau diputus sakit hatinya

when u miss me please call me
when i miss u , i will miss call upelit bgt ga siiii,,,,

I have a pen. my pen is blue
I have a friend
my friend is youu

Salam MANIS beserta MADU, salam SAYANG beserta I LOVE U.
salam RINDU beserta I MISS U, salam INGATAN kuingin tahu..HOW ARE U?

Yang kuharap malam ini hanya tentangmu. Yang kuinginkan saat ini hanya damaimu.
Yang kupinta detik ini hanya bahagiamu. Met tidur, sayang,,….

Ketahuilah,
Cinta tak akan pernah sekalipun mengetahui tingkat kedalamannya,
Bila ia belum diterkam oleh perpisahan.

Aku datang atas nama cinta
Dan kini kau datang membawa putih cintamu yang begitu manis
Melekat dalam relung jiwaku.

Jika kegelapan menyembunyikan pepohonan dan bunga-bunga dari penglihatan kita.
Ia tidak akan menyembunyikan cinta dalam hati kita.

Andaikan saja aku berani berkata cinta.
Kini diriku merasa lelah memendam rasa.
Ingin kuungkapkan semua, meski tanpa akhir terindah.

Cinta adalah saling memiliki.
Kasih sayang adalah saling memberi.
Cinta adalah kejujuran.
Mencintai bukan untuk saling menghianati.

Saat kutatap wajah sang malam.
Dirimu hadir dalam tatapan mataku.
Begitu lekat dalam hembusan bayu.
Serasa lembut nafasmu menyapu rinduku.

Sejak pertama bertemu, ada getar di hati walau hanya sekejap.
Saat saling mengenal telah membingkai kenangan manis.
Meski tak bisa bersama tapi bayangmu menghiasi hari hariku.
Meskipun jarak memisahkan tapi rasa sayang tetap ada walau hanya di hati saja.

Untuk rembulan di sayab Jibril.
Aku selalu menanti di tepi kematianku.
Tapi aku tak kuat menanti lama dan mengubur rindu di pusara jiwaku.
Kubiarkan kerinduan itu mengembara, melayang dalam dimensi hening.
Kujaga aurora mata hati yang datang menyapaku

Apakah cinta itu?
Hingga kini masih kunanti hadirnya di relung hatiku.

Cinta tak harus memiliki dan mencintai bukanlah menguasai.
Biarlah kumencintai dengan caraku sendiri.

Jangan sebut cinta abadi jika hanya ingin merasakannya.
Hiduplah cinta dan tinggallah di dalamnya maka cinta itu akan kekal.

Laksana kumbang yang terjebak dalam taman mawar berduri.
Leluasa menikmati tebaran keharumannya.
Namun tak kuasa untuk memetiknya.
Tak kuasa bebas dari belenggu duri.

Cinta tak harus memiliki tapi hanya bisa dirasakan.
Berpisah tak harus ada rasa benci.
Hanya cinta yang mampu mengatasinya.

Meski cinta tak terbalaskan,
tapi tetap akan kutunggu hingga engkau hanya memikirkanku seorang.

Anganku tak berhenti bersajak.
Walau kutahu, kau tak pernah menganggap diriku ada,
Meski rasa letih mendera,
Aku tak akan pernah melepaskannya lagi.
Kau hanya mimpi yang tak akan menjadi nyata hingga segala rasa harus padam dan berakhir.
Kan selalu kurasakan hadirmu antara ada dan tiada.

Dingin angin malam membawa khayalan kian pasti.
Kugantung impian dan asa,
Dan aku berjanji tidak akan mengecewakan dirinya.

Mencintaimu setulus hati,
Mengarungi lautan untuk mendapatkan cinta suci.
Tak akan pernah menduakanmu walaupun terpisah jarak dan perbedaan.

Tak semua kata dapat terucap,
Lain di mulut lain di hati.
Suatu hari nanti, kau akan tahu,
Rasa cinta yang tersimpan.

Nikmatilah cinta dengan kasih putih,
Maka akan lahir cinta sejati.

Mengagumimu apa adanya dan menjadi inspirasi dalam hidupku.
Membangkitkan rasa cintaku menjadi tak terbatas.
Kini, kuserahkan diriku apa adanya.

Tak akan pernah tahu,
Kemana mata hati melangkah dan berpijak.
Sosokmu hanya banyang semu di hati.
Abadilah asa bersama mimpiku.

Sesaat mengenal telah menambah arti dalam hidupku.
Kudapatkan anugerah terindah di bulan penuh berkah.
Tanpa kata janji, hanya ungkapan cinta dan saling pecaya.
Berdua kita jelang masa depan bersama dalam satu cinta,
Abadi selamanya.

Rindu akan belaianmu, kasih sayang, dan ketegaranmu.
Walau semua itu tlah berlalu,
Tapi takkan pernah terlupakan hingga akhir hayatku.

Saat bertemu, aku tak peduli.
Saat kau pergi, aku selalu menantimu.
Apakah ini namanya cinta?

Kau datang disaat keegoisan akan cinta tengah mendera.
Membawa cahaya dan kedamaian,
Membuatku tidak mudah menyerah untuk merengkuh kisah cinta bersamamu.

Dalam hati aku menanti,
Kuserahkan hati sebagai tanda ketulusan cinta.

Meski adakah cinta yang tulus setelah sekian lama lelah mencari.
Kapankah perjalanan ini kan berakhir?

Cinta adalah misteri yang sulit dimengerti.
Cinta merupakan anugerah bagi insan manusia.
Cinta adalah kebahagiaan yang terpancar dalam diri seseorang, meski terkadang cinta juga meninggalkan rasa sakit.
Adakah cinta abadi?
Akankah cinta selalu bersemi?

Cinta berpuisi seribu makna.
Bertahun-tahun perjalanan cinta yang tak pernah terpisahkan oleh waktu dan jarak.

Berharap datangnya cinta bagai bunga di musim lalu,
dan mengharap turunnya hujan.
Kupercaya akan janji,
seperti kupercaya terbitnya matahari esok pagi.

Penderitaanku adalah bayangan gelap bagi dirimu,
Saat kesetiaan menjadi alasan untuk mencampakanku!
Aku takkan lari dari cintamu yang selalu memasungku.

Sesuatu yang terbesar dalam hidup ialah mengampuni orang yang menyakiti kita
Dan tetap mengasihinya.

Jangan pernah berkata selamat tinggal jika masih ingin mencoba.
Jangan pernah menyerah selama merasa masih dapat maju.
Jangan pernah berkata ya bila tidak menyukainya.

Untuk apa bicara cinta, jika hatimu tak terbuka.
Untuk apa bicara cinta, jika matamu tak bercahaya.
Untuk apa bicara cinta, jika hanya membuatmu menderita.
Bagiku, dirimu adalah Sang Cinta

Apakah arti cinta jika tidak saling mengerti satu sama lain.
Jika keegoisan yang muncul, itu bukanlah cinta.

Seseorang tak akan pernah menyadari dalamnya rasa cinta
Sampai tiba saat perpisahan.

Cinta bagaikan sepasang burung yang tumbuh melalui jiwa, rasa dan raga.
Cinta dapat dimiliki melalui perasaan dua hati.

Kuingin lebih mencintaimu sebelum saat lepaskan tubuhku.
Kuingin rasakan cintamu seutuhnya sebelum saat tinggalkan jiwaku.
Cumbuilah cintaku, belailah hatiku dan peluklah erat jiwaku untuk selamanya.

Cinta dapat melahirkan kebahagiaan dan kebencian.
Cinta bukanlah segalanya.
Tak perlu berlebihan memperlakukannya.
Cintailah sang pencipta cinta.

Adakalahnya cinta datang tiba-tiba.
Adakalahnya cinta datang walau hanya sesaat.
Adakalahnya cinta datang hanya di bibir saja.
Tapi cintaku untuk selamanya, dan namamu terukir dilubuk hatiku.

Jika ditakdirkan untuk bersama,
Kutak ingin hanya janji dan kata setia.
Cinta butuh kepastian yanhg nyata.

Jika aku disuruh memilih
Untuk bernapas atau mencintaimu.
Aku akan menggunakan napas terakhirku untuk mengatakan aku mencintaimu

Jika ada 100 orang yang mencintai kamu pastilah aku salah satu dari mereka
Jika ada 10 orang yang mencintai kamu pastilah aku juga salah satu dari mereka
Jika tak ada 1 orang pun yang mencintai kamu pastilah saat itu aku sudah tidak ada di dunia, karena aku tidak bisa memilikimu

Tadi malam aku kirim bidadari untuk menjaga tidurmu.
Eh, dia buru-buru balik. Katanya, Ah, masa bidadari disuruh jaga bidadari?

Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi2 sih!

Comments off

Cerpen : Rajawali

Karya : Esti Pramestiari. Karya-karyanya berupa cerpen, cerbung, puisi, dan karya jurnalistik lainnya banyak diterbitkan diberbagai media cetak dan elektronik. Saat ini dia sedang mempersiapkan novel pertamanya yang akan terbit bersama Timoteus Talip penulis yang telah melahirkan delapan buah buku fenomenal.

RAJAWALI

Aku merindukanmu Rajawali, sepekat pelangi merindukan hujan sore tadi. Aku merindukanmu rajawali, merindukan mata yang berpendar mengajakku terbang tinggi dan menari. Aku merindukanmu rajawali seperti kala itu kita berjanji untuk kembali, bersama suatu hari.

Malam ini, hujan bergemuruh, langit gelap, mataku selalu ingin terpejam, meski sulit. Dibayangku hanya ada saat dimana kita bersama, rajawali itu menatapku..sayapnya seakan menyentuh pori-pori tubuhku, diam tanpa suara… aku memandangnya, melihat luka yang sama dimatanya, luka itu kurasakan, batinku yang berkata, meski bibirnya terdiam tanpa suara. Aku menyentuhnya, menyentuh wajahnya yang kuat namun aku mengerti sayapnya telah rapuh karena terpaan cuaca.

“Hei Rajawali.. apa aku boleh menyentuh sayapmu?” kataku. Rajawali itu terdiam, aku memandangnya lekat, tanpa suara meski aku mengerti maknanya. “Bolehkah aku mengobati sayapmu yang patah?” kataku kemudian. Rajawali itu tetap terdiam, matanya memandangku, andai rajawali itu mengerti betapa aku telah menyerahkan seluruh hatiku padanya. Seperti hembusan nafasku yang terlahir sempurna hanya untuk bersamanya.

***

Petir bergelora, aku bersama rajawali, menyentuh kepakan sayapnya, sempurna.. sebentar lagi mungkin rajawali dapat kembali terbang mengitari dunia. Rajawali itu diam, melihatku tanpa bersuara, meski kali ini sayapnya yang tak luka menyentuhku. Aku larut, larut dalam gelora dunia, tak perduli akan awan hitam yang mengajak pergi namun selalu ingin kembali.

Aku larut alam geloranya, matanya mengajakku untuk terus menari. Aku menyentuhnya, menyentuh kepakan sayap dengan luka lamanya. Rajawali tetaplah disini, aku berkata dalam hati, tak ingin membiarkannya pergi. Rajawali tak mendengarkanku, dia larut dalam sinar malam ditemani bintang dengan kejoranya.

Rajawali… jangan pergi, aku berkata dalam hati, daun keringku tertiup angin lalu pergi, malam ini dia nyaris tak dapat mendengarku.
***

Pagi ini, cakrawala menari, mentari berpendar dengan indahnya, tanpa suara, tanpa kata. Rajawali berkata “Pagi,” aku tersenyum, karena itu kata dimana aku selalu menanti pagi, menanti matahari, menanti kehidupan. Aku juga memiliki luka, luka yang mungkin aku simpan sendiri dan tak ada seorang pun mengerti maknanya, namun aku harus berkata kali ini, kepada rajawali, aku yakin jiwanya yang indah dapat menerimanya, menerima luka yang aku rasa, seperti aku menerima kepakan sayapnya yang patah karena terpaan cuaca.

“Boleh aku bicara” ucapku. “Silahkan” rajawali menjawabnya. Aku bercerita semuanya, sejujurnya, meski membuka kenangan yang terkoyak membuat seluruh tubuhku merinding akan kelu. Rajawali terdiam, menatap mataku yang menunduk, aku berharap dia dapat menerimanya.

“Jika begitu, maka aku yang harus terbang tinggi,” sahutnya. “Maksudnya?” kataku kemudian. Aku terdiam, hatiku terkoyak, jiwaku memanggilnya namun dia tak mendengarnya, betapa mentari seakan tak lagi ada, seperti udara disekelilingku pekat, seperti aku seorang diri menatap dunia.

Rajawali itu pergi, aku melihatnya, melihatnya dari kejauhan yang tak seorang pun dapat melihat kepakan sayapnya yang telah kembali sempurna. Jiwaku memanggilnya, namun rajawali tak mendengarku, dia terbang dengan sayap indahnya, lalu aku sendiri, menikmati dunia.

***
Diam.ditemani langit tanpa bintang. Saat ini, aku lebih menanti malam, bukan lagi mentari yang datang tanpa bintang, malam membiarkanku bersuara lantang akan banyak hal, angin malam menyapaku, menyapa tubuhku yang tak lagi bernyawa, aku merasa separuh jiwaku telah pergi bersama rajawali.

Burung gereja datang, berkerumun diatas jendela, menyapaku satu persatu dengan kepakan sayapnya, aku tersenyum, hanya berpura-pura, karena aku hanya dapat tersenyum bila rajawali kembali…aku merindukannya…merindukan mentari yang datang bersamanya..bersama kepakan sayapnya yang telah sempurna.

***

Pagi, satu persatu burung kenari menyapaku..memegang jiwaku yang telah pergi..memelukku. Aku berusaha menikmati pelukannya, namun nyatanya..aku tak mampu…labirinku mati..ya tak ada lagi senyuman setelah dia pergi…rasaku telah terbang tinggi dan menari bersama rajawali yang terbang tinggi.

Hujan..langit legam..enggan bicara akan kebenaran. Aku menikmati rasa yang aku tak pernah mengerti kapan harus terhenti. Tak lama burung merpati datang, memberiku sepucuk surat, aku memegangnya, membukanya dan menikmati isinya.

“Tadi..aku ingin meloncat..mengambil putihnya kapas langit..sebagai persembahan sederhana..sesederhana matahari yang menjadikannya panas bumi..lalu menjadikannya awan..dan menjadikannya hujan cinta” @Rajawali.
Aku tergetar…aku memelukknya, memeluk kertas dengan nama yang kurindukan didalamnya. Dimana rajawali pelangi? dimana aku harus mencarinya? Pada langit, matahari atau pelangi… aku merindukannya, katakan padanya aku ingin dia kembali.
Tak lama petir bergelegar kembali, putikku hancur, aku membiarkannya, menunggunya dalam kelam dan ruangan hampa udara, entah hingga kapan, hingga mungkin bungaku layu tanpanya, dalam penantian panjang yang sempurna.

***

Mentari pagi ini, bersama kupu2 terkesiyap..merejap. Aku meniupkan sesuatu kepadanya. Tiupan kata yang hanya aku dan kupu-kupu yang mengitariku yang mengerti maknanya. Serpihan kapas menggeliat..merejap.
Kupu-kupu..sampaikan kata bahwa aku merindukan rajawaliku yang terbang tinggi dilangitmu . Aku berdiri dibumiku, menantinya memelukku hingga suatu hari dia akan selalu bersamaku, ya bersamaku, tertawa dan kami berpendar di udara memetik putihnya kapas langit, berdua.

***
End

Comments off

« Previous entries